Pemikiran Salafi
December 31, 2009
Yang dimaksud dengan “Pemikiran Salafi” di sini ialah kerangka berpikir (manhaj fikri) yang tercermin dalam pemahaman generasi terbaik dari ummat ini. Yakni para Sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan setia, dengan mempedomani hidayah Al-Qur’an dan tuntunan Nabi SAW.
Kriteria Manhaj Salafi yang Benar
Yaitu suatu manhaj yang secara global berpijak pada prinsip berikut :
- Berpegang pada nash-nash yang ma’shum (suci), bukan kepada pendapat para ahli atau tokoh.
- Mengembalikan masalah-masalah “mutasyabihat” (yang kurang jelas) kepada masalah “muhkamat” (yang pasti dan tegas). Dan mengembalikan masalah yang zhanni kepada yang qath’i.
- Memahami kasus-kasus furu’ (kecil) dan juz’i (tidak prinsipil), dalam kerangka prinsip dan masalah fundamental.
- Menyerukan “Ijtihad” dan pembaruan. Memerangi “Taqlid” dan kebekuan.
- Mengajak untuk ber-iltizam (memegang teguh) akhlak Islamiah, bukan meniru trend.
- Dalam masalah fiqh, berorientasi pada “kemudahan” bukan “mempersulit”.
- Dalam hal bimbingan dan penyuluhan, lebih memberikan motivasi, bukan menakut-nakuti.
- Dalam bidang aqidah, lebih menekankan penanaman keyakinan, bukan dengan perdebatan.
- Dalam masalah Ibadah, lebih mementingkan jiwa ibadah, bukan formalitasnya.
- Menekankan sikap “ittiba’” (mengikuti) dalam masalah agama. Dan menanamkan semangat “ikhtira’” (kreasi dan daya cipta) dalam masalah kehidupan duniawi.
Inilah inti “manhaj salafi” yang merupakan khas mereka. Dengan manhaj inilah dibinanya generasi Islam terbaik, dari segi teori dan praktek. Sehingga mereka mendapat pujian langsung dari Allah di dalam Al-Qur’an dan Hadits-Hadits Nabi serta dibuktikan kebenarannya oleh sejarah. Merekalah yang telah berhasil mentransfer Al-Qur’an kepada generasi sesudah mereka. Menghafal Sunnah. Mempelopori berbagai kemenangan (futuh). Menyebarluaskan keadilan dan keluhuran (ihsan). Mendirikan “negara ilmu dan Iman”. Membangun peradaban robbani yang manusiawi, bermoral dan mendunia. Sampai sekarang masih tercatat dalam sejarah.
Citra “Salafiah” Dirusak oleh Pihak yang Pro dan Kontra
Istilah “Salafiah” telah dirusak citranya oleh kalangan yang pro dan kontra terhadap “salafiah”. Orang-orang yang pro-salafiah - baik yang sementara ini dianggap orang dan menamakan dirinya demikian, atau yang sebagian besar mereka benar-benar salafiyah - telah membatasinya dalam skop formalitas dan kontroversial saja, seperti masalah-masalah tertentu dalam Ilmu Kalam, Ilmu Fiqh atau Ilmu Tasawuf. Mereka sangat keras dan garang terhadap orang lain yang berbeda pendapat dengan mereka dalam masalah-masalah kecil dan tidak prinsipil ini. Sehingga memberi kesan bagi sementara orang bahwa manhaj Salaf adalah metoda “debat” dan “polemik”, bukan manhaj konstruktif dan praktis. Dan juga mengesankan bahwa yang dimaksud dengan “Salafiah” ialah mempersoalkan yang kecil-kecil dengan mengorbankan hal-hal yang prinsipil. Mempermasalahkan khilafiah dengan mengabaikan masalah-masalah yang disepakati. Mementingkan formalitas dan kulit dengan melupakan inti dan jiwa.
Sedangkan pihak yang kontra-salafiah menuduh faham ini “terbelakang”, senantiasa menoleh ke belakang, tidak pernah menatap ke depan. Faham Salafiah, menurut mereka, tidak menaruh perhatian terhadap masa kini dan masa depan. Sangat fanatis terhadap pendapat sendiri, tidak mau mendengar suara orang lain. Salafiah identik dengan anti pembaruan, mematikan kreatifitas dan daya cipta. Serta tidak mengenal moderat dan pertengahan.
Sebenarnya tuduhan-tuduhan ini merusak citra salafiah yang hakiki dan penyeru-penyerunya yang asli. Barangkali tokoh yang paling menonjol dalam mendakwahkan “salafiah” dan membelanya mati-matian pda masa lampau ialah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah beserta muridnya Imam Ibnul-Qoyyim. Mereka inilah orang yang paling pantas mewakili gerakan”pembaruan Islam” pada masa mereka. Karena pembaruan yang mereka lakukan benar-benar mencakup seluruh disiplin ilmu Islam.
Mereka telah menumpas faham “taqlid”, “fanatisme madzhab” fiqh dan ilmu kalam yang sempat mendominasi dan mengekang pemikiran Islam selama beberapa abad. Namun, di samping kegarangan mereka dalam membasmi “ashobiyah madzhabiyah” ini, mereka tetap menghargai para Imam Madzhab dan memberikan hak-hak mereka untuk dihormati. Hal itu jelas terlihat dalam risalah “Raf’l - malaam ‘anil - A’immatil A’lam” karya Ibnu Taimiyah.
Demikian gencar serangan mereka terhadap “tasawuf” karena penyimpangan-penyimpangan pemikiran dan aqidah yang menyebar di dalamnya. Khususnya di tangan pendiri madzhab “Al-Hulul Wal-Ittihad” (penyatuan). Dan penyelewengan perilaku yang dilakukan para orang jahil dan yang menyalahgunakan “tasawuf” untuk kepentingan pribadinya. Namun, mereka menyadari tasawuf yang benar (shahih). Mereka memuji para pemuka tasawuf yang ikhlas dan robbani. Bahkan dalam bidang ini, mereka meninggalkan warisan yang sangat berharga, yang tertuang dalam dua jilid dari “Majmu’ Fatawa” karya besar Imam Ibnu Taimiyah. Demikian pula dalam beberapa karangan Ibnu-Qoyyim. Yang termasyhur ialah “Madarijus Salikin syarah Manazil As-Sairin ila Maqomaat Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in”, dalam tiga jilid.
Mengikut Manhaj Salaf Bukan Sekedar Ucapan Mereka
Yang perlu saya tekankan di sini, mengikut manhaj salaf, tidaklah berarti sekedar ucapan-ucapan mereka dalam masalah-masalah kecil tertentu. Adalah suatu hal y ang mungkin terjadi, anda mengambil pendapat-pendapat salaf dalam masalah yang juz’i (kecil), namun pada hakikatnya anda meninggalkan manhaj mereka yang universal, integral dan seimbang. Sebagaimana juga mungkin, anda memegang teguh manhaj mereka yang kulli (universal), jiwa dan tujuan-tujuannya, walaupun anda menyalahi sebagian pendapat dan ijtihad mereka.
Inilah sikap saya pribadi terhadap kedua Imam tersebut, yakni Imam Ibnu Taimiyah dan Ibnul-Qoyyim. Saya sangat menghargai manhaj mereka secara global dan memahaminya. Namun, ini tidak berarti bahwa saya harus mengambil semua pendapat mereka. Jika saya melakukan hal itu berarti saya telah terperangkap dalam “taqlid” yang baru. Dan berarti telah melanggar manhaj yang mereka pegang dan perjuangkan sehingga mereka disiksa karenanya. Yaitu manhaj “nalar” dan “mengikuti dalil”. Melihat setiap pendapat secara obyektif, bukan memandang orangnya. Apa artinya anda protes orang lain mengikut (taqlid) Imam Abu Hanifah atau Imam Malik, jika anda sendiri taqlid kepada Ibnu Taimiyah atau Ibnul-Qoyyim
Juga termasuk menzalimi kedua Imam tersebut, hanya menyebutkan sisi ilmiah dan pemikiran dari hidup mereka dan mengabaikan segi-segi lain yang tidak kalah penting dengan sisi pertama. Sering terlupakan sisi Robbani dari kehidupan Ibnu Taimiyah yang pernah menuturkan kata-kata: “Aku melewati hari-hari dalam hidupku dimana suara hatiku berkata, kalaulah yang dinikmati ahli syurga itu seperti apa yang kurasakan, pastilah mereka dalam kehidupan yang bahagia”.
Di dalam sel penjara dan penyiksaannya, beliau pernah mengatakan: “Apa yang hendak dilakukan musuh terhadapku? Kehidupan di dalam penjara bagiku merupakan khalwat (mengasingkan diri dari kebisingan dunia), pengasingan bagiku merupakan rekreasi, dan jika aku dibunuh adalah mati syahid”.
Beliau adalah seorang laki-laki robbani yang amat berperasaan. Demikian pula muridnya Ibnul-Qoyyim. Ini dapat dirasakan oleh semua orang yang membaca kitab-kitabnya dengan hati yang terbuka.
Namun, orang seringkali melupakan, sisi “dakwah” dan “jihad” dalam kehidupan dua Imam tersebut. Imam Ibnu Taimiyah terlibat langsung dalam beberapa medan pertempuran dan sebagai penggerak. Kehidupan dua tokoh itu penuh diwarnai perjuangan dalam memperbarui Islam. Dijebloskan ke dalam penjara beberapa kali. Akhirnya Syaikhul Islam mengakhiri hidupnya di dalam penjara, pada tahun 728 H. Inilah makna “Salafiah” yang sesungguhnya.
Bila kita alihkan pandangan ke zaman sekarang, kita temukan tokoh yang paling menonjol mendakwahkan “salafiah”, dan paling gigih mempertahankannya lewat artikel, kitab karangan dan majalah pembawa missi “salafiah”, ialah Imam Muhammad Rasyid Ridha. Pem-red majalah “Al-Manar’ yang selama kurun waktu tiga puluh tahun lebih membawa “bendera” salafiah ini, menulis Tafsir “Al-Manar” dan dimuat dalam majalah yang sama, yang telah menyebar ke seluruh pelosok dunia.
Rasyid Ridha adalah seorang “pembaharu” (mujaddid) Islam pada masanya. Barangsiapa membaca “tafsir”nya, sperti : “Al-Wahyu Al-Muhammadi”, “Yusrul-Islam”, “Nida’ Lil-Jins Al-Lathief”, “Al-Khilafah”, “Muhawarat Al-Mushlih wal-Muqollid” dan sejumlah kitab dan makalah-makalahnya, akan melihat bahwa pemikiran tokoh yang satu ini benar-benar merupakan “Manar” (menara) yang memberi petunjuk dalam perjalanan Islam di masa modern. Kehidupan amalinya merupakan bukti bagi pemikiran “salafiah”nya.
Beliaulah yang merumuskan sebuah kaidah “emas” yang terkenal dan belakangan dilanjutkan Imam Hasan Al-Banna. Yaitu kaidah :
“Mari kita saling bekerja sama dalam hal-hal yang kita sepakati. Dan mari kita saling memaafkan dalam masalah-masalah yang kita berbeda pendapat.”
Betapa indahnya kaidah ini jika dipahami dan diterapkan oleh mereka yang meng-klaim dirinya sebagai “pengikut Salaf”.
Sumber: Aulawiyaat Al Harokah Al Islamiyah fil Marhalah Al Qodimah - Dr.Yusuf Al Qordhowi
Berbeza manhaj tidak mesti sesat
December 31, 2009
Temuramah Utusan Malaysia bertarikh 10 Nov 2009 bersama Dr Mohd Nizam Shaad. Bahagian Pengajian Islam
Pusat Pengajian Ilmu Kemanusiaan
11800 Universiti Sains Malaysia
Apakah manhaj penyampaian tauhid oleh Nabi SAW kepada para sahabat?
NIZAM: Dari sudut sejarah, pendekatan penyampaian akidah tauhid kepada para sahabat pada zaman Rasulullah SAW bersifat mudah dan padat. Maksudnya, menggunakan terus pendekatan al-Quran menerusi wahyu Allah.
Jika ada sebarang pertanyaan yang menuntut penjelasan dari Rasulullah, baginda memberi penerangan terus atau menunggu wahyu Allah. Corak jawapan kepada persoalan tersebut berbeza-beza tahapnya bersesuaian dengan tahap pertanyaan dari siapa dan keadaan semasa.
Penjelasan Nabi SAW dengan bait katanya pula menjadi sunnah ikutan dalam hal berakidah. Oleh sebab itu, pendekatan zaman awal Islam boleh dikatakan sebagai menggunakan pendekatan al-Quran dan al-Sunnah.
Pada zaman ini, masyarakat Islam menerima apa sahaja yang dibawa oleh Rasulullah tanpa banyak soal. Mereka beriman sepenuhnya dengan apa yang diajar kepada mereka oleh Nabi SAW.
Sebagai contoh, lihatlah sahaja bagaimana peribadi Saidina Abu Bakar yang membenarkan apa yang diceritakan kepadanya tentang peristiwa ghaib Israk dan Mikraj tanpa banyak soal tentang kebenarannya.
Asalkan khabar berita yang dibawa kepadanya datang dari Nabi Muhammad SAW, beliau akan membenarkannya. Oleh sebab itulah, beliau diberi gelaran al-Siddiq yang bererti yang membenarkan. (Muhammad Mutawalla al-Sya’rawi , 1981:110)
Adakah ini bermakna, suasana perbahasan ketika itu tenang daripada polemik?
NIZAM: Ringkasnya, suasana perbahasan pada zaman Rasulullah amat tenang daripada pertelingkahan pendapat khususnya dalam masalah akidah. Mereka menolak perdebatan dan perbahasan panjang tentang persoalan Ilahiyyat.
Rasulullah adalah sumber rujukan utama. Mereka juga menerima agama daripada riwayat yang benar dan athar yang diriwayatkan dari dalil orang adil dan thiqah (dipercayai) sehingga sampai kepada Rasulullah.
Mereka memahami apa yang diterangkan oleh Rasulullah dan memilih untuk berdiam diri dari berdebat tentang sifat-sifat Allah. Mereka juga tidak pernah membeza-bezakan sifat-sifat tersebut menjadi sifat zat dan sifat fi’l, melainkan mereka menetapkan sifat-sifat azali bagi Allah.
Mereka juga memutlakkan makna yang telah dimutlakkan Allah sendiri bagi diri-Nya, seperti wajah, tangan dan sebagainya dengan menafikan kesamaan sifat itu dengan makhluk. Mereka menetapkannya tanpa tasybih dan mensucikannya tanpa ta’til.
Mereka bersepakat mengakui sifat-sifat Allah sebagaimana diajar dan tidak ada yang pernah mengambil cara-cara ilmu Kalam dan juga falsafah. (Abu al-Hasan ‘Ali bin Isma’il al-Asy’ari, 1999:8 & 9)
Apakah pula pendekatan mengajar tauhid selepas wafatnya Nabi SAW?
NIZAM: Setelah wafatnya Rasulullah khususnya pada era tiga kurun awal hijrah, pendekatan yang digunakan masih bersesuaian dengan kaedah yang ditinggalkan oleh baginda.
Kaedah pengajaran ini lebih dikenali dengan kaedah salaf, iaitu kaedah yang digunapakai oleh golongan terkemudian dalam mengajar tauhid kepada masyarakat. Istilah salaf ini mula masyhur ketika mana berlaku persaingan pemikiran dan perdebatan aliran-aliran ilmu kalam dalam soal usuluddin atau dasar-dasar agama berhubung dengan persoalan akidah.
Ramai dalam kalangan mereka cuba mengaku diri sebagai golongan salaf dan cuba mempertahankan Islam dari serangan pemikiran ahli bidaah. (Muhammad bin Aman al-Jami’, 1991:57)
Pada zaman kemudiannya, ketika mana unsur falsafah dan ilmu kalam meresap masuk dalam ilmu tauhid, pendekatan pengajaran tauhid turut menggunakan kaedah falsafah dan ilmu kalam khusus dalam menjawab penyelewengan yang timbul dalam aspek akidah.
Pada masa yang sama, golongan salaf terutamanya ahli hadis membuat bantahan terhadap kaedah yang diguna pakai oleh ahli Ilmu Kalam. Mereka berpendapat, al-Quran dan al-Sunnah sudah memadai dalam mencari jawapan terhadap persoalan akidah dan tidak perlu kepada dalil akal atau menggunakan kaedah falsafah.
Para sahabat dan tabien menutup rapat pintu ta’wil dalam soal Ilahiyyat misalnya ta’wilan dan tafsiran yang membawa kekeliruan dan salah faham tidak mendapat tempat di sisi mereka. Soalan yang berbentuk bagaimana dan kenapa adalah perkara yang dijauhi dan dianggap suatu perkara bidaah dalam hal Ilahiyyat. (’Irfan Abd al-Hamid, 1967:126)
Kemudiannya, bangkit Ibn Taimiyyah (m.728H) yang merumuskan pendekatan Tauhid Tiga Serangkai iaitu rumusan tauhid berdasarkan kepada Tauhid Rububiah, Uluhiah dan Asma’ wa Sifat yang berteraskan fahaman kaedah salaf.
Bila pula munculnya tauhid berasaskan Sifat 20?
NIZAM: Pada zaman mutakhir, tatkala umat Islam diserang pemikiran akidahnya dan bercampur baur pemahaman akidahnya dengan unsur falsafah yang menyesatkan, muncul Muhammad Yusuf al-Sanusi (w.896H / 1490M) dengan pendekatan baru iaitu pendekatan Sifat 20 dalam kitabnya yang masyhur iaitu Umm al-Barahin.
Pendekatan ini tersebar luas sehingga ke nusantara Asia Tenggara termasuk Malaysia. Pendekatan sifat 20 ini dalam memahami akidah kemudiannya dikembangkan dalam bentuk terjemahan oleh ulama nusantara dalam kitab-kitab jawi atau juga dikenali sebagai kitab-kitab kuning.
Pada tahun 1757M. iaitu pada abad ke 18M. misalnya, Muhammad Zain bin Faqih Jalaluddin telah menterjemah serta mengubah suai kitab al-Sanusi yang bertajuk Umm al-Barahin yang membincangkan persoalan berkaitan dengan ajaran Sifat 20. Kitab tersebut kemudiannya dinamakan Bidayah al-Hidayah. (Kamarul Bakri bin Abd. Aziz, 1999:80 & 81)
Selepas itu beberapa kitab berkenaan dengan ilmu tauhid yang berasaskan kitab Umm al-Barahin ini telah dikarang. Di antaranya ialah Zuhrah al-Murid fi Bayan Kalimah al-Tauhid oleh Abdul Samad Palembani pada tahun 1764M di Mekah.
Pada masa itu juga, Nawawi Bentani yang berada di Mekah telah menyusun sebuah kitab syarah kepada Umm al-Barahin yang bertajuk Zari’at al-Yaqin. (C. Snouck Hurgronje, 1970: 271)
Pada abad ini juga Tok Syihabuddin dari Palembang turut mengembangkan ajaran Sifat 20 melalui kitabnya Aqidah al-Bayan. (Kamarul Bakri Abd. Aziz, op. cit.)
Pendek kata, aliran akidah yang berkembang di nusantara adalah berasaskan fahaman al-Asya’irah terutamanya berkenaan sifat 20 menurut huraian al-Sanusi dalam kitabnya Umm al-Barahin.
Kebiasaannya, para ulama kitab Jawi akan mengupas tentang sifat wajib, mustahil dan harus bagi Allah. Mereka membahagikan sifat wajib kepada 20 dengan pembahagian kepada empat kategori iaitu nafsiah, salbiah, ma’ani dan ma’nawiyyah berserta huraiannya. (Ibid.)
Ringkasnya, di sepanjang sejarah perkembangan akidah Islam dari sudut pendekatan pengajarannya, terdapat pelbagai kaedah yang diformulasikan oleh para sarjana Muslim yang diaplikasikan dalam masyarakat Islam pada zaman-zamannya.
Secara ringkas, terdapat tiga pendekatan yang menonjol iaitu pendekatan al-Quran dan al-Sunnah, pendekatan lanjutan dengan nama pendekatan Tauhid Tiga Serangkai dan pendekatan lanjutan rumusan berasaskan Sifat 20 atau Doktrin Sifat 20.
Malangnya perbezaan pendekatan itu mendorong sebahagian kita melabel manhaj yang lain sesat? Bolehkah?
NIZAM: Ketiga-tiga cara penyampaian akidah tauhid di atas sama ada melalui pendekatan al-Quran dan al-Sunnah, pendekatan Tauhid Tiga Serangkai dan Sifat 20 merupakan cara atau manhaj yang digunapakai dalam sejarah perkembangan ilmu penyampaian akidah tauhid.
Kesemua cara tersebut bermatlamat hendak mengenalkan Allah kepada masyarakat. Oleh itu, membuat tuduhan bahawa pendekatan sesetengah pihak sesat dan bidaah adalah tidak wajar. Isunya di sini adalah apa yang digunakan itu adalah satu bentuk pendekatan.
Matlamatnya tetap sama untuk menyeru manusia beriman kepada Allah. Berbalah dalam isu pendekatan hanya merumitkan keadaan dan menyebabkan masyarakat keliru dengan pegangan pendekatan yang digunakan.
Ahli Sunnah wa al-Jamaah bukan sahaja melarang kita membudayakan isu kafir mengkafir bahkan tidak menggalakkan kita sesat menyesatkan antara saudara seagama tanpa asas yang kukuh.
Malah kedua-dua tindakan itu hampir sama. Begitu juga, seandai sesetengah pihak menuduh Ibn Taimiyyah sesat dalam kaedahnya, maka banyak yang perlu disemak dalam kurikulum pendidikan negara di peringkat sekolah menengah dan universiti.
Begitu juga andainya pihak yang lain pula menuduh Sifat 20 itu sebagai bidaah, maka banyak pula kitab-kitab ulama nusantara yang masyhur di sisi orang Melayu wajib ditinggalkan.
Berbalah dan berselisih dalam hal pendekatan pengajaran ini haruslah dielakkan demi keharmonian masyarakat awam dalam memahami akidah Islam yang sebenar.
Sumber: Institut Al-Qayyim
Ummah mundur selagi membelakangkan Islam
December 30, 2009
SUARA mengatakan umat Islam mundur kerana agama dianuti, semakin lama semakin kuat berkumandang. Malah, ada kalangan umat Islam mengiyakan kenyataan itu tanpa berfikir panjang. Bukan saja mengiyakan, malah mempersoalkan hukum termaktub dalam al-Quran dan hadis sahih.
Penyakit kejahilan yang semakin kuat menyerang pemikiran umat Islam dan bukan Islam harus disekat segera. Sesungguhnya sebab kemunduran, kelemahan dan kejahilan umat Islam bukan disebabkan agama dianutinya tetapi kerana umat Islam tidak lagi berpegang kepada agamanya.
Adakah kerana umat Islam tidak berpegang kepada agamanya, bererti Islam sebagai agama harus dipersalahkan? Demi Allah yang menciptakan apa yang di langit dan di bumi, sama sekali Islam bukanlah penyebab kegagalan umat Islam.
Seorang doktor yang mendiagnos penyakit, kemudian memberi senarai ubat perlu diambil, tetapi jika pesakitnya tidak mendengar dan mengikuti arahan doktor, siapakah harus dipersalahkan apabila pesakit tidak sembuh. Adakah doktor yang dipersalahkan?
Islam sudah menyediakan manual untuk penganutnya sebagai panduan dan pengajaran tetapi jika penganut tidak mengikutinya, adakah Islam harus dipersalahkan?
Islam menyeru kesatuan tetapi umat Islam masih berpecah-belah. Islam menyeru persaudaraan, tetapi umat Islam masih lagi bermusuhan. Islam menyeru kepada keadilan, tetapi umat Islam masih lagi berlaku zalim.
Umat Islam perlu mengamalkan Islam yang sebenarnya, sentiasa berpegang kepada apa yang terkandung dalam al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW. Umat Islam perlu mencontohi ketaatan dan kefahaman umat terdahulu di kalangan sahabat dan tabiin menjalani kehidupan sebagai Muslim.
Jika umat Islam mengikuti seperti orang terdahulu amalkan, sudah pasti umat Islam tidak akan dimomokkan lagi dengan perkataan mundur, kegagalan dan kejahilan.
Semakin erat hubungan seseorang dengan agama, semakin baik keadaan dan budi pekertinya. Malah, hubungan erat ini akan membawa kepada kejayaan, penghormatan, kemenangan dan kemuliaan kepada sesiapa saja.
Islam sudah menerangkan segala aspek dan keperluan umat Islam dalam kehidupan mereka, seperti dikatakan oleh Abu Darda: “Tidak ada yang diabaikan oleh Rasulullah, sehingga burung yang mengepakkan sayapnya di langit, Baginda sudah mengajarkan kepada kita mengenai ilmunya.”
Lengkapnya Islam hinggakan hal berkaitan cara membuang hajat juga diajar dan diberi petunjuk. Salman al-Farisi seorang sahabat besar Rasulullah SAW pernah ditanya seorang musyrik adakah Rasulullah mengajarkan cara membuang hajat.
Kemudian Salman al-Farisi menjawab, “Ya, Baginda melarang kami menghadap kiblat ketika membuang hajat dan melarang kami membersihkannya dengan kurang dari tiga batu atau dengan tangan kanan, atau dengan kotoran kering atau tulang.”
Jika meneliti kembali sejarah pertembungan peradaban Islam dan peradaban lain, Islam unggul kerana hubungan umatnya dengan agama begitu kuat. Sebut siapa saja, Yahudi, Pagan, Rom, Majusi dan munafik, semuanya dapat dikalahkan malah ditawan hati mereka untuk memeluk Islam.
Selepas kewafatan Rasulullah SAW, kepemimpinan Baginda diteruskan Khulafa’ ar-Rasyidin. Pengganti Rasulullah SAW tetap meneruskan apa yang dimulakan Baginda tanpa ada sebarang tambahan mahupun pengurangan.
Islam semakin berkembang pesat dan tersebar ke seluruh dunia. Zaman ini adalah zaman kegemilangan Islam. Ilmu Islam tersebar ke seluruh pelusuk kota, ramai di kalangan bukan Islam mengambil manfaat daripada kegemilangan ini.
Ke mana saja umat Islam berada, di situlah peradaban besar dibina, dihormati dan digeruni oleh negara bukan Islam. Peradaban disulami keimanan, ilmuwan, teknologi dan kebendaan menjadi agenda utama. Peradaban dibina umat Islam ketika itu bukan peradaban materialistik mahupun kebendaan, tetapi peradaban menyatupadukan iman, ilmu, pembangunan dan akhlak.
Ketika itu umat Islam menjadi pemimpin dunia, di waktu itu juga umat Islam dihormati. Negara Islam adalah negara pertama, bukan negara ketiga seperti sekarang. Negara umat Islam adalah guru dan ikutan kepada negara lain.
Semua orang datang ke negara Islam untuk belajar di universiti disediakan. Bangsa Eropah yang dalam kegelapan ketika itu mempelajari bahasa Arab, ilmu Islam serta kaedah pembelajaran yang dicipta sarjana Islam.
Namun semua itu hanya tinggal kenangan. Umat Islam kini menghadapi masalah membabitkan kegagalan dan kemunduran. Semuanya apabila umat Islam menjauhkan diri dari Islam sebenar. Ketika kita menjauhi Islam, maka kita akan lemah, berpecah-belah, dan saling mementingkan diri.
Namun kita semua percaya umat Islam akan dihormati semula dan menjadi gemilang apabila kembali kepada Allah dan Rasul. Apabila masa itu tiba, kita percaya Islam akan mengatasi segala-galanya.
Firman Allah yang bermaksud: “Dan Allah telah berjanji kepada orang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal salih bahawa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, segera Dia menjadikan orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diredai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik.” (Surah an-Nur, ayat 55)
Sumber: Yussamir Yusof ( Berita Harian Online )
Tajdid Iman: Muhasabah diri sebelum tahun baru
December 29, 2009
Disiplin, amal ibadat, zikir bantu ummah perangi cengkaman hawa nafsu
MENDEKATI detik terakhir penghujung tahun ini, sememangnya agak gementar mengimbas kembali catatan kealpaan diri sepanjang tahun. Orang mukmin yang jujur suka mengorek rahsia hatinya dengan mencari kelemahan dan menangisi kerugian yang ditanggung. Mereka merumuskan makna kejayaan dan peningkatan pencapaian sebenar bagi setiap tahun dalam kehidupan mengikut kacamata agama.
Sesungguhnya peningkatan agama bergantung dengan ibadat, peningkatan harta kerana pandai merancang dan berjimat, peningkatan ilmu kerana mengkaji, peningkatan akhlak kerana lemah lembut dan mengawal emosi, peningkatan dalam hubungan sesama manusia kerana membuang sifat sombong dan riak, peningkatan kesabaran hati kerana banyaknya musibah, peningkatan kualiti diri kerana disiplin yang kuat.
Kelemahan diri pula menjadi agenda yang paling penting untuk diinsafi setiap masa, misalnya ketika kita kekurangan harta akibat nafsu membeli-belah yang tinggi dan tidak pandai merancang. Sewaktu ditimpa surutnya cahaya di hati kerana malas beribadah dan meninggalkan ilmu. Kerasnya jiwa kerana jauh dari al-Quran dan Sunnah Rasul-Nya. Berkurangnya kawan dan renggang ikatan persaudaraan kerana suka menambah musuh, takbur, menunjuk-nunjuk dan berdengki. Bertambahnya penyakit kerana banyak makan, malas, berehat dan berhibur secara berlebihan. Berkurangnya umur dan sedikitnya bekalan ke akhirat juga menunjukkan betapa ruginya manusia sepanjang tahun ini.
Saat bermuhasabah tidaklah terbatas hanya pada hujung tahun, kerana Rasulullah SAW mengajar umatnya untuk sentiasa mengakui kelemahan diri melalui firman Allah yang bermaksud: “Orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan) mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu. Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (Surah al-Najm: 32)
Jangan sesekali menganggap diri sudah berjaya sebelum benar kepastiannya mengenai pintu syurga atau neraka yang akan dimasuki. Sepanjang kehidupan yang kita lalui di dunia, banyak kemungkinan akan terjadi. Berubahnya hati dan turun naiknya iman, pasang surutnya amalan dan bertambah atau berkurangnya dosa dan pahala. Hakikatnya ramai yang menjadi tawanan hawa nafsu dan sedikit saja orang yang selamat. Layakkah kita menjadi golongan yang sedikit itu?
Suatu hari Ibnul Qayyim Al-Jauziyah menziarahi gurunya Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah yang sedang dipenjara dan difitnah musuh-musuhnya. Melihat keadaan gurunya itu beliau pun menangis. Ibnu Taimiyah berkata: “Apakah kamu menangis melihat keadaanku? Demi Allah, wahai anakku, aku bukan seorang tawanan. Sesungguhnya orang yang menjadi tawanan itu sebenarnya adalah orang yang menahan hatinya dari ikatan Tuhannya membiarkan hawa nafsunya menawannya.”
Allah SWT berfirman yang bermaksud: “Terangkanlah kepadaku akan orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya.” (Surah Al-Furqan: 43)
Mulakan muhasabah ini dengan melihat sejauh mana kekuatan hawa nafsu mempengaruhi diri. Betapa hebatnya cengkaman hawa nafsu terhadap jiwa raga kita sehingga kedudukannya boleh jadi setaraf dengan Tuhan dalam pandangan manusia yang lalai. Bahkan Baginda pernah memberi nasihat kepada seorang sahabat supaya berwaspada dengan jerat nafsu.
Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Rabi’ah, mintalah kepadaku”. Aku berkata: “Wahai Rasulullah biar aku fikirkan sebentar. Lalu aku mengingat-ingat dunia serta kefanaannya sehingga aku berkata: “Aku tidak akan meminta kecuali akhirat. Kemudian aku mendatangi Baginda SAW dan berkata: “Aku meminta supaya aku boleh menemanimu di syurga. Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Rabi’ah adakah yang selain dari itu? Aku menjawab: Itu saja. Maka Rasulullah SAW bersabda lagi: Berjanjilah untuk kamu mengendalikan hawa nafsumu dan banyakkan sujud (nescaya kamu akan menemaniku di syurga).” (Muslim)
Hawa nafsu boleh dilemahkan jika manusia berdisiplin memeranginya. Satu kata kunci untuk kejayaan adalah disiplin. Ia wujud dalam sistem ibadat kita, solat lima waktu dan solat sunat, puasa, haji, zakat dan sedekah. Zikrullah dengan terang ataupun tersembunyi, memelihara al-Quran sentiasa hidup di dalam hati dan melaksanakan sunnah Rasul adalah disiplin. Mengisi masa dengan amal, menguasai dunia demi akhirat memerlukan disiplin yang tinggi.
Ibnu Al-Qayyim pernah berkata: “Wahai orang yang lemah semangat! Sesungguhnya di atas jalan ini Nuh menjadi tua, Yahya dibunuh, Zakaria digergaji, Muhammad diseksa dan anda pula inginkan Islam datang dengan mudah di bawah kakimu?”
Selepas meneliti kuasa hawa nafsu dalam diri dan mengakui cengkamannya yang melemahkan amal salih maka langkah yang kedua ialah menentukan azam baru untuk memerangi, merancang jalan mana yang mahu ditempuhi, lebih tajam membuat siasat perang dan berwaspada dengan muslihat musuh setiap saat.
Musuh manusia yang paling licik berada di sekelilingnya. Ia tidak memilih apakah orang itu alim atau jahil, ahli ibadat atau ahli maksiat, mukmin atau kafir. Syaitan tetap syaitan, semua orang dipengaruhi syaitan masing-masing. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya syaitan itu mengalir di dalam tubuh anak Adam laksana mengalirnya darah dan sesungguhnya aku bimbang dia akan menimbulkan di dalam hati kamu sesuatu yang jahat.” (Al-Bukhari dan Muslim)
Setiap konflik yang muncul dalam pergaulan manusia kerana dengki, dendam dan sombong, perselisihan suami dan isteri, terputusnya ikatan sanak saudara, anak menderhaka, orang tua tidak amanah, orang kaya tamak, pemimpin zalim serta lalai dan kufurnya manusia terhadap Allah SWT, semua itu berpunca daripada hasutan syaitan akibat diri menjadi tawanan nafsu.
Orang mukmin sentiasa mengingati diri mereka supaya berlindung dari gangguan syaitan, mengenali bahawa kejahatannya itu adalah hasil kerja syaitan dan cepat-cepat kembali bertaubat dan berwaspada supaya tidak tertipu lagi dengan kenikmatan yang dijanjikan syaitan. Oleh kerana sifat dosa adalah nikmat sesaat manakala pahala pula bersifat susah, perit dan seksaan maka ramailah yang kecundang dalam memilih.
Tetapi bagi orang mukmin, seksaan melawan hawa nafsu dan syaitan itu sedikit demi sedikit berubah menjadi nikmat jiwa yang paling bernilai yang tidak pernah dirasai orang fasik lagi lalai. Nikmatnya seakan-akan di dalam syurga walaupun mereka masih berada di dunia lagi.
Ibnu Taimiyah berkata: “Sesungguhnya di dunia ini ada syurga, sesiapa yang belum masuk ke dalamnya dia tidak boleh masuk syurga akhirat. Murid-muridnya bertanya: “Apakah syurga dunia itu? Beliau berkata: “Syurga mengenal Allah, mencintai-Nya, merindu dan berlemah-lembut kepada-Nya.”
Penulis ialah Mufti Perlis
Sumber: Dr. Juanda Jaya ( Berita Harian Online )
Dilitupi Salji, DiPeluk Iman: Kirovsky Islamic Centre
December 27, 2009
Hari itu tampak tenang. Tiada angin yang mengigit kesejukan, tiada salji yang lewat turun. Suhu di sekitar nampak selesa di sekitar 0 ke -5, ‘Teplo’ orang Russia kata, suam kata kita. Kebetulan juga hari tersebut merupakan hari terakhir ‘Cycle Infection’, maka kami pun mengambil keputusan untuk solat jumaat di Masjid Kirovsky.




Ada jarak lebih kurang 15 minit antara Hospital Infection dengan Masjid Kirovsky. Perjalanannya tidak sukar meski kadang-kadang ada salji setinggi buku lali dan anjing-anjing liar berkeliaran. Kami bergelak ketawa di sepanjang perjalanan, berseloroh sambil mengambil gambar satu atau dua dikelilingi pokok-pokok yang beku layak kristal rupanya.
Tidaklah lama kemudian, kami melihat kubah mini biru lembut mengamit pemandangan, dilitupi sebahagiannya dek salji. Beberapa perkara tidak boleh terlepas dari pandangan kami, ada longokan batang-batang kayu di hadapan, sebukit tanah dilitupi salji. Tingkap-tingkap aluminium di tingkat satu melegakan saya, alhamdulillah kerana sekurang-kurangnya ada persediaan masjid in menghadapi musim sejuk.
Kami membuka pintu perlahan-lahan, ragu-ragu kalau tiada solat jumaat di situ. Kami melangkah masuk dan terus disambut haba hangat dari pemanas, dialu-alukan zikir jemaah yang berada di dalam. Segala-galanya kelihatan sangat sederhana, masih banyak dalam proses penyempurnaan. Ada banyak wayar berjuntaian di atas siling sambil mentol-mentol kuning lembut menyinari dalam masjid. Masih belum ada pemanas radiator cuma deruman pemanas gas, percikan kayu api di bakar menjadi peneman jemaah hari itu. Rata-rata kebanyakan jemaah terdiri daripada orang-orang tua dari sekitar penempatan. Barangkali kebanyakan orang muda solat di ‘Masjid Lenkoransyaya’ di tengah bandar. Lebih tersedia dari segi fasilitasinya.
Kami duduk bersila menyertai yang lain untuk mendengar Imam Rustam menyampaikan Khutbah Jumaat. Imam Rustam mengenakan jubah hijau dengan sulaman 2 bunga berwarna merah di tengah-tengah jubahnya. Mukanya yang cerah, senyumannya yang ikhlas nyata menarik kami untuk setia mendengar. Khutbahnya punya nada yang lebih tegas berbanding khutbah Imam di Masjid Lenkoranskaya yang biasa kami dengar. Lebih banyak penekanan akidah dalam khutbahnya. Beliau mengingatkan sungguh-sungguh untuk membezakan amalan kita ketika melalui Tahun Baru dan Krismas, amalan-amalan yang dibuat mengikut-mengikut penganut agama lain boleh menjejaskan akidah kita, malah terus-terus jelas melanggar syariat. Beliau turut menegur ibu bapa yang membawa masuk budaya-budaya sambutan tersebut sekaligus menjadikan seolah-olah satu kebiasaan yang tidak lansung nampak salah di hati anak-anak.
Usai solat kami menolak-nolak untuk bercakap dengan Imam Rustam. Bukan berebut tetapi takut mungkin kerana ketegasannya ketika solat jumaat sedikit mengentarkan kami (aduhai hati orang Melayu). Namun, setelah beliau menegur kami, nyata beliau sangat ramah. Kami kemudiannya berbual-bual tentang perkembangan pembinaan Kirovsky Islamic Centre. Butir demi butir beliau menerangkan tentang masalah duit yang di alami, pekerja yang tidak dapat digaji, pemanas yang perlu dipasang secepat mungkin dan air yng perlu dibawa masuk. Kira-kira lebih daripada 200 ribu ruble (23 ribu ringgit, 4600 euro, 6700 USD) diperlukan dalam jangka masa terdekat bagi pemasangan radiator pemanas lebih-lebih lagi mengambil kemungkinan tiba-tiba ribut salji akan datang kembali ke Volgograd, lagi 300 ribu ruble (33 ribu ringgit) lagi diperlukan membayar upah pekerja.
Setelah berbual-bual ringkas, kami mengambil gambar kenang-kenangan bersama-sama. Di pertengahan jalan keluar, kami menolong jemaah yang lain mengangkat masuk kayu-kayu api yang telah dipotong ke dalam masjid. Hari itu kami akhiri dengan penuh senyuman, doa dan semangat agar Kirovsky ini dapat tersergam lebih seperti masjid, memainkan fungsinya menyuburkan syiar Islam di sini.
DiNaungi Ilahi
Dilitupi salji
Dipeluk semangat Keimanan
Moga Kau subur Nanti
Dapat menyemai benih-benih Islam
Agar tumbuh mekar pohon Ad-Din
Yang membuahkan keberkatan untuk dunia
Nukilan: Saudara Fadly Khairie (Sumber)






Recent Comments