Kirovsky Islamic Centre – Make it a Reality
6 Jan
Pertempuran Mu’tah terjadi pada 629 M atau 5 Jumadil Awal 8 H[5]), dekat kampung yang bernama Mu’tah, di sebelah timur Sungai Jordan dan Al Karak, antara pasukan Muslim yang dikirim oleh Nabi Muhammad dan tentara Kekaisaran Romawi Timur
Dalam sejarah Islam, pertempuran ini merupakan upaya Muslim untuk memberikan pembalasan terhadap kepala suku Ghassaniyah yang mengeksekusi seorang utusan kaum Muslim. Menurut sumber-sumber Islam, pertempuran ini berakhir dengan kedua pihak mundur dari medan perang.[3] Menurut sumber-sumber Barat modern, pertempuran ini adalah upaya penaklukan yang gagal terhadap bangsa Arab di sebelah timur Sungai Jordan.[7]
Inilah peperangan kaum muslimin yang pertama melawan bangsa adidaya dimasa itu, bangsa Romawi. Terjadi pada tahun 8 H. Sebagian ahli sejarah mengungkapkan bahwa faktor pemicu laga antara kaum muslimin dan kaum kuffar ini telah terjadinya pembunuhan atas utusan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam yang bernama al-Harits bin ‘Umair radhiyallahu ‘anhu oleh Syurahbil bin ‘Amr al-Ghassani, salah satu gubernur dibawah bangsa Romawi di Syam.[1] (pada waktu itu yang berkuasa di wilayah Palestina dan sekitarnya). Sebelumnya, tidak pernah seorang utusan dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dibunuh dalam misinya.
Sebelum pasukan islam berangkat untuk menegakkan panji La ilaha Illallah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam telah menunjuk tiga orang sahabat sekaligus mengemban amanah komanda secara bergantian bila komandan sebelumnya gugur dalam tugas di medan peperangan hingga mengakibatkan tidak dapat meneruskan kepemimpinan. Sebuah keputusan yang belum pernah beliau lakukan sebelumnya. Mereka itu adalah Ja’far bin Abi Thalib, Zaid bin Haristsah (berasal dari kaum muhajirin) dan seorang sahabat dari Anshar, ‘Abdullah bin Rawahah, penyair Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :
“ Bila Zaid meninggal, makan (pemimpin kalian adalah) Ja’far. Jika Ja’far meninggal, maka (pemimpin kalian adalah) ‘Abdullah bin Rawahah (HR. al-Bukhari no.4260)
Ketangguhan Tiga Panglima Perang Mu’tah
Singkatnya, pasukan islam yang berjumlah 3000 personel diberangkatkan. Ketika mereka sampai di daerah Ma’an, terdengar berita bahwa Heraklius mempersiapkan 100 ribu pasukannya. Selain itu, kaum Nasrani dari beberapa suku Arab pun telah siap dengan jumlah yang sama. Mendengar kabar yang demikian, sebagian sahabat radhiyallahu ‘anhum mengusulkan supaya meminta bantuan pasukan kepada Rasulullah atau beliau memutuskan suatu perintah.
‘Abdullah bin Rawahah radhiyallahu ‘anhu lantas mengobarkan semangat juang para sahabat radhiyallahu ‘anhum pada waktu itu dengan perkataannya , “Demi Allah, sesungguhnya perkata yang kalian tidak sukai ini adalah perkata yang kamu keluar mencarinya, yaitu syahadah (gugur dimedan perang dijalan Allah Azza wa Jalla). Kita itu tidak berjuang karena karena jumlah pasukan atau kekuatan. Kita berjuang untuk agama ini yang Allah Azza wa Jalla telah memuliakan kita dengannya. Bergeraklah. Hanya ada salah satu dari dua kebaikan : kemenangan atau gugur (syahid) di medan perang.”
Orang-orang menanggapi dengan berkata, “ Demi Allah, Ibnu Rawahah berkata benar”.
Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu, panglima pertama yang ditunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, kemudian membawa pasukan ke wilayah Mu’tah. Dua pasukan berhadapan dengan sengit. Komandan pertama ini menebasi anak panah-anak panah pasukan musuh sampai akhirnay tewas terbunuh di jalan Allah Azza wa Jalla.
Bendera pun beralih ke tangan Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Sepupu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam ini berperang sampai tangan kanannya putus. Bendera beliau pegangi dengan tangan kiri, dan akhirnya putus juga oleh tangan musuh. Dalam kondisi demikian, semangat beliau tak mengenal surut, saat tetap berusaha mempertahankan bendera dengan cara memeluknya sampai beliau gugur oleh senjata lawan. Berdasarkan keterangan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, salah seorang saksi mata yang ikut serta dalam perang itu, terdapat tidakkurang 90 luka di bagian tubuh depan beliau baik akibat tusukan pedang dan maupun anak panah. [2]
Gilirang ‘Abdullah bin Rawahah radhiyallahu ‘anhu pun datang. Setelah menerjang musuh, ajal pun memjemput beliau di medan peperangan.
Tsabit bin Arqam radhiyallahu ‘anhu mengambil bendera yang telah tak bertuan itu dan berteriak memanggil para Sahabat Nabi agar menentukan pengganti yang memimpin kaum muslimin. Maka, pilihan mereka jatuh pada Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu. Dengan kecerdikan dan kecemerlangan siasat dan strategi – setelah taufik dari Allah Azza wa Jalla – kaum muslimin berhasil memukul Romawi hingga mengalami kerugian yang banyak.
Jumlah Syuhada Mu’tah
Menyaksikan peperangan yang tidak seimbang antara kaum muslimin dengan kaum kuffar, yang merupakan pasukan aliansi antara kaum Nashara Romawi dan Nashara Arab, secara logis, kekalahan bakal di alami oleh para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengungkapkan ketakjubannya terhadap kekuasaan Allah Azza wa Jalla melalui hasil peperangan yang berakhir dengan kemenangan kaum muslimin dengan berkata : “Ini kejadian yang menakjubkan sekali. Dua pasukan bertarung, saling bermusuhan dalam agama. Pihak pertama pasukan yang berjuang dijalan Allah Azza wa Jalla, dengan kekuatan 3000 orang. Dan pihak lainnya, pasukan kafir yang berjumlah 200 ribu pasukan. 100 ribu orang dari Romawi dan 100 ribu orang dari Nashara Arab. Mereka saling bertarung dan menyerang. Meski demikian sengitnya, hanya 12 orang yang terbunuh dari pasukan kaum muslimin. Padahal, jumlah korban tewas dari kaum musyirikin sangat banyak”.[3]
Allah Azza wa Jalla berfirman :
“ Orang-orang yang menyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah? Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”. (Qs. Al-Baqarah/2:249)
Para ulama sejarah tidak bersepakat pada satu kata mengenai jumlah syuhada Mu’tah. Namun, yang jelas jumlah mereka tidak banyak. Hanya berkisar pada angka belasan, menurut hitungan yang terbanyak. Padahal, peperangan Mu’tah sangat sengit. Ini dapat dibuktikan bahwa Khalid bin Walid rahimahullah menghabiskan 9 pucuk pedang dalam perang tersebut. Hanya satu pedang yang tersisa, hasil buatan Yaman.
Khalid rahimahullah berkata, “Telah patah Sembilan pedang ditanganku, tidak tersisa kecuali pedang buatan Yaman (HR.Bukhari 4265-4266)
Menurut Imam Ibnu Ishaq -Imam dalam ilmu sejarah Islam-, syuhada perang Mu’tah hanya berjumlah 8 Sahabat saja. Secara terperinci yaitu Ja’far bin Abi Thalib, dan mantan budak Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam Zaid bin Haritsah al-Kalbi, Mas’ud bin al-Aswad bin Haritsah bin Nadhlah al-‘Adawi, Wahb bin Sa’d bin Abi Sarh radhiyallahu ‘anhum.
Sementara dari kalangan kaum anshar, ‘Abdullah bin Rawahah, ‘Abbad bin Qais al-Khozarjayyan, al-Harits bin an-Nu’man bin Isaf bin Nadhlah an-Najjari, Suraqah bin ‘Amr bin Athiyyah bin Khansa al-Mazini radhiyallahu ‘anhum.
Disisi lain, Imam Ibnu Hisyam rahimahullah dengan berlandaskan keterangan az-Zuhri rahimahullah, menambahkan empat nama dalam deretan Sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam yang gugur di medan perang Mu’tah. Yakni, Abu Kulaib dan Jabir. Dua orang ini saudara sekandung. Ditambah ‘Amr bin ‘Amir putra Sa’d bin Tsa’labah bi Malik bin Afsha. Mereka juga berasal dari kaum anshar. Dengan ini, jumlah syuhada bertambah menjadi 12 jiwa. [4]
Semoga Allah Azza wa Jalla memudahkan kita untuk meneladani semangat juang di jalan Allah Azza wa Jalla. Meskipun kondisi berat lantaran jumlah personel sedikit, namun hal itu tidak mengendurkan langkah mereka untuk terus berjihad di jalan Allah Azza wa Jalla.[5] Wallahu a’lam
Note :
[1] Fathul Baari (9/368) [2] HR.Bukhari no.4261 [3] Silahkan lihat al-Bidayah wan Nihayah (4/214) [4] Menurut penulis as-Sirah ash-Shahihah (hal.468) jumlah Sahabat yang gugur 13 orang. [5] Penulis as-Sirah an-Nabawiyyah Fi Dhaul Mashadiril Ashliyyah (hal.549) menyimpulkan beberapa pelajaran penting dari perang Mu’tah.
3 Jan
[Kontributor : Abu Syifa, 22 Oktober 2005 ]
Sumber: http://www.al-nidaa.com.my/artikel.php?id=83&action=view
3 Jan
Ini adalah kekuasaan mutlak Tuhan Yang Menciptakan neraka. Di akhirat neraka dimasuki oleh sesiapa yang ditentukan ALLAH sebagai ahli neraka. Demikian juga syurga. Namun ALLAH memberitahu tentang keadaan manusia di akhirat dengan firmanNya (bermaksud) : “adapun orang yang berat timbangan (amal baiknya), Maka ia berada dalam kehidupan yang senang lenang. Sebaliknya orang yang ringan timbangannya (amal baiknya), Maka tempat kembalinya ialah “Haawiyah”, Dan apa jalannya engkau dapat mengetahui, apa dia “Haawiyah” itu? (Haawiyah itu ialah): api yang panas membakar” (Surah al-Qariah 6-11). Adapun saya yang dhaif ini tidak mengetahui bagaimanakah timbangan amalan saudari di akhirat kelak. Bahkan nasib saya sendiri saya tidak tahu, bagaimana mungkin saya boleh tahu nasib orang lain?!! Namun jika saudari bertanya saya, adakah perbuatan saudari salah atau betul? Tentu jawapannya: ia satu kesalahan. Apakah perbuatan itu faktor yang membawa ke syurga atau ke neraka?……..
Maka jawapan “dalil-dalil al-Quran dan al-Sunnah menunjukkan ke neraka”. Namun timbangan amalan insan di akhirat bukan hanya terbatas kepada suatu bab sahaja. Ia merangkumi segala bentuk kebaikan dan keburukan. “Sesiapa beramal dengan kebaikan seberat biji sawi akan dinilai. Sesiapa yang beramal dengan seberat biji sawi keburukan juga akan dinilai”. Kemudian jika natijah dari nilaian itu menunjukkan kebaikan lebih berat dari kejahatan, maka selamatlah dia. Jika sebaliknya, rugilah dia. Dalam hidup ini, ada pula ujian dan cubaan. Sesiapa yang sabar dengan ujian dan cubaan, diberi pahala dan dihapuskan dosa. Kesalahan orang kepada kita juga menjadikan pahalanya dipindahkan kepada kita, atau dosa kita diberikan kepadanya -seperti dalam hadith al-Imam Muslim-. Maka keputusan neraka dan syurga adalah hak ALLAH terhadap hamba-hambaNya. Apa yang pasti dosa menyumbang ke arah neraka. Pahala menyumbang ke arah syurga. Jika ditanya membuka aurat, riba, derhaka ibubapa dan seumpamanya ke arah mana? Jawapannya ke arah neraka. Jika ada yang berkata, mereka ini juga solat dan buat baik dalam perkara yang lain. Kita katakan; amalan baik menuju ke syurga. ALLAH yang Maha Adil akan menimbangnya dan menentukannya. Demikian semua insan. Padanya ada baik dan buruk. Amalan kita akan ditimbang di akhirat kelak.
Saya timbulkan ini kerana ada juga orang bertanya saya tentang hadith: “..Sesungguhnya sesiapa yang hidup selepasku akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kamu berpegang dengan sunnahku dan sunnah al-Khulafa al-Rasyidin al-Mahdiyyin (mendapat petunjuk). Berpeganglah dengannya dan gigitlah ianya dengan geraham. Jauhilah kamu perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama), kerana setiap yang diada-adakan itu bid’ah dan setiap yang bid’ah itu sesat”. (Hadith ini sahih. Diriwayatkan oleh Abu Daud, al-Tirmizi dengan menyatakan ianya “hasan sahih”, Ibn Majah dan al-Darimi dalam sunan mereka. Demikian juga Ibn Hibban dalam sahihnya dan al-Hakim dalam dalam al-Mustadrak dengan menyatakan: “Hadith ini sahih”. Ini dipersetujui oleh al-Imam al-Zahabi).
Katanya: “Jika bid’ah masuk neraka, apakah datuk nenek kita dan sebahagian golongan agama akan masuk neraka disebabkan beberapa perkara bidah yang mereka lakukan”. Saya katakan; pertama hadith ini sahih, maka kita jangan mempersenda-sendakannya. Kedua, seperti yang disebut tadi; sesiapa yang berat amalan baiknya maka dia masuk syurga. Begitu sebaliknya. Adapun bid’ah bukan pembawa ke arah syurga. Kita mengharapkan bagi mereka amalan soleh yang jauh lebih besar dari kesilapan mereka. Dengan itu beratlah kebaikan mereka melebihi kesalahan mereka. Keempat, kita disuruh oleh agama untuk bersangka baik dengan muslim yang lain. Justeru, kita katakan; mungkin mereka tidak tahu, atau menyangka ia sunnah walaupun sebenarnya tidak. ALLAH Maha Mengampuni hamba-hambaNya. ALLAH berfirman (maksudnya): Allah tidak memberati seseorang melainkan apa yang terdaya olehnya. Ia mendapat pahala kebaikan yang diusahakannya, dan ia juga menanggung dosa kejahatan yang diusahakannya. (Mereka berdoa dengan berkata): “Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau mengirakan kami salah jika kami lupa atau kami tersalah. Wahai Tuhan kami ! Janganlah Engkau bebankan kepada kami bebanan yang berat sebagaimana yang telah Engkau bebankan kepada orang-orang yang terdahulu daripada kami. Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang kami tidak terdaya memikulnya. Dan maafkanlah kesalahan kami, serta ampunkanlah dosa kami, dan berilah rahmat kepada kami. Engkaulah Penolong kami; oleh itu, tolonglah kami untuk mencapai kemenangan terhadap kaum-kaum yang kafir”. (Surah al-Baqarah: 286).
Kita mendoakan keampunan mereka, namun dalam masa yang sama kita tidak boleh menyatakan kepada diri kita bahawa kesalahan yang dibuat itu betul. Bahkan kita mesti menghindari kesilapan yang lalu setelah sampai kepada kita ajaran al-Kitab dan al-Sunnah. Kita menyampaikan hukum ALLAH dan kaedah agama. Kita tidak menghukum individu. Jika kita ditanya apakah hukuman terhadap pencuri dalam perundangan Islam. Kita jawab: Dalam hukum Islam pencuri dipotong tangannya. Namun jika dia bertanya adakah si A boleh saya potong tangannya kerana saya lihat dia mencuri. Kita katakan: Tidak! Sehingga melalui proses perbicaraan yang dituntut oleh syarak. Apa yang saya beritahu ‘pencuri dipotong tangan’ ialah kaedah. Adapun perlaksanaan memerlukan penelitian yang lebih.
Bidah, khurafat, riba, arak adalah pembawa kepada jalan neraka. Sesiapa yang mengamalkannya, menuju ke neraka. Ini adalah kaedah umum. Namun apabila hendak memutus si fulan ahli neraka. Tiada siapa yang berhak. Ini kerana kita tidak tahu amalannya yang lain, taubatnya, istighfarnya, dan kemaafan ALLAH untuknya.
Hal ini perlu dijelaskan untuk dua pihak. Pertama mereka yang tidak faham tentang maksud kaedah-kaedah yang disampaikan lalu menuduh yang bukan-bukan. Kedua kepada golongan pendakwah sendiri yang terlalu cepat menghukum individu tanpa penelitian. Jadilah kita bagaikan khawarij. Atau pro-khawarij di zaman ini yang cepat mengkafirkan muslim yang lain.
Justeru kita perlu ingat, sikap tergopoh-gapah menghukum sebelum mengetahui latarbelakang orang dicegah atau disuruh adalah perbuatan yang salah. Golongan yang gopoh ini akan menghukum dengan hukuman kafir atau sesat tanpa terlebih dahulu memahami masalah. Bahkan mungkin mereka sendiri tidak faham hukum-hakam tersebut dengan jelas. Sedangkan mereka lupa, tidak semua maksiat membawa kepada kekufuran. Tidak semua pula perbuatan dan ucapan kufur menjadikan pelakunya kafir. Demikian tidak semua perbuatan bid’ah menjadikan pembuatnya ahli bid’ah. Kata Ibn Taimiyyah: “Sesungguhnya sesuatu ucapan menjadi kufr seperti mengingkari kewajipan solat, zakat, puasa dan hajj. Namun pengucapnya mungkin tidak sampai kepada khitab (ajaran yang betul dalam perkara tersebut), maka tidak dikafirkan dia disebabkan keingkarannya. Ini seperti mereka yang baru menganut Islam dan hidup di daerah pendalaman yang jauh dan tidak sampai kepadanya syariat-syariat Islam”( Ibn Taimiyyah, Majmu’at al-Fatawa, 2/220). Di tempat yang lain beliau menyebut: “Sesiapa yang menghadiri majlisku mengetahui, sesungguhnya aku adalah manusia yang paling membantah menyandar seseorang individu kepada kekafiran, atau kefasikan, atau kemaksiatan, melainkan setelah ditegakkan hujah dan dalil yang menunjukkan sesiapa yang menyanggahinya (dalil tersebut) menjadi kafir, atau fasiq, atau ahli maksiat. Sesungguhnya aku bertegas bahawa ALLAH mengampuni kesilapan umat ini. Ini merangkumi pemasalahan akidah dan amalan” (Ibid, 2/147).
Al-Qaradawi menyebut: “Hendaklah diberikan perhatian apa yang telah diputuskan oleh para `ulama muhaqqiqun mengenai wajibnya dibezakan antara peribadi dan jenis dalam isu takfir (mengkafirkan). Ini bermaksud, contohnya kita katakan “Golongan komunis itu kafir, atau para pemerintah sekular yang membantah hukum syarak itu kafir, atau sesiapa yang menyatakan sebegini atau menyeru kepada ini maka dia kafir. Ini semua adalah hukuman pada jenis. Adapun apabila perkara ini berkait dengan peribadi seseorang, yang disandar kepada mereka itu dan ini, maka wajiblah diambil masa untuk dibuat kepastian dan kesabitan mengenai hakikat sebenar pendiriannya. Ini dengan cara menyoal atau berbincang dengannya sehingga ditegakkan hujjah, tiada lagi syubhat dan juga tiada lagi keuzuran untuknya. Perkara ini pernah disebut oleh Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah: Sesungguhnya perkataan boleh menyebabkan kufur. Secara umumnya dikafirkan pengucapnya. Dikatakan “Sesiapa yang mengucap begini maka dia kafir”. Tetapi peribadi berkenaan yang mengucapkannya tidak dihukum dengan kafir sehingga ditegakkan hujjah yang membukti kuffur sesiapa yang meninggalkannya (meninggalkan berpegang dengan hujjah yang jelas tersebut-pen)” (Al-Qaradawi, Zahirah al-Ghulu fi al-Takfir, m.s. 26-27, Mesir: Maktabah Wahbah (1989).
Keadaan manusia ini berbagai-bagai, ada di kalangan mereka yang membuat kesalahan kerana terlupa, atau jahil atau terdesak. Kita hendaklah memahami latarbelakang yang berbagai ini sebelum menghukum. Sikap ini telah ditunjukkan oleh Nabi s.a.w dalam tindakan-tindakan baginda, antaranya, daripada ‘Ali bin Abi Talib, katanya: “Rasulullah telah mengutuskan aku, Abu Marthad dan al-Zubair-kami semua adalah penunggang kuda- baginda bersabda: Pergilah kamu semua sehingga sampai ke Raudah Khakh, sesungguhnya di sana ada seorang perempuan dari kalangan Musyrikin, bersamanya surat dari Hatib bin Abi Balta`ah kepada Musyrikin”. Maka kami pun mendapatinya, dia menaiki unta sepertimana yang dikatakan oleh Rasulullah s.a.w. Kami berkata kepadanya: “Surat!”. Dia menjawab: “Tidak ada bersama kami sebarang surat”. Maka kami pun menduduk dan memeriksanya. Namum kami tidak dapati sebarang surat pun. Kami berkata: “Rasulullah tidak pernah berdusta, sama ada engkau keluarkan surat tersebut atau kami akan telanjangkan engkau!”. Apabila dia melihat kesungguhan kami maka dia pun terus mendapatkan simpulan kainnya. Dia pun mengeluarkan surat tersebut, lalu kami terus membawa surat itu kepada Rasulullah s.a.w. Kata `Umar: “Wahai Rasulullah!, sesungguhnya dia (Hatib bin Abi Balta`ah) telah mengkhianati Allah, RasulNya dan orang-orang Mukminin, biarkan aku pancung kepalanya!”. Baginda bersabda (kepada Hatib): “Apa yang mendorong tindakanmu?”. Kata Hatib: “Demi Allah! Bukan aku tidak beriman kepada Allah dan RasulNya s.a.w. tetapi aku ingin mendapat bantuan di sisi kaum (Quraish) yang dengannya Allah akan menyelamatkan keluargaku dan hartaku. Tidak ada seorang pun di kalangan sahabatmu melainkan baginya di sana kaum kerabat yang mana dengannya Allah selamatkan keluarga dan hartanya”. Sabda baginda: “Dia benar! Janganlah kamu berkata kepadanya melainkan yang baik”. `Umar berkata: “Sesungguhnya dia telah mengkhianati Allah, RasulNya dan orang-orang mukminin, biarkan aku pancung kepalanya”. Baginda bersabda: “Tidakkah dia di kalangan anggota Perang Badar?”. Sabdanya lagi: “Mudah-mudahan Allah melihat kepada ahli Perang Badar dan berfirman “ buatlah apa yang kamu suka sesungguhnya telah pasti untuk kamu syurga atau Aku telah ampuni kamu semua”. Maka menangislah ‘Umar seraya berkata Allah dan RasulNya lebih mengetahui . (Riwayat al-Bukhari)
Lihat bagaimana baginda meraikan keadaan terdesak yang dihadapi oleh Hatib. Baginda tidak terus menghukumnya sebelum mengetahui keadaannya. Demikian juga kita lihat sikap baginda dalam kes-kes yang lain. Maka kita dalam banyak hal dituntut agar cuba memahami keadaan orang yang kita dakwah. Kita mesti membezakan antara kaedah dan hukuman.
(sumber: http://al-qayyim.net/home/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=362al-qayyim.net)- Dr. Mohd Asri Zainul Abidin
3 Jan
Recent Comments