Muslims In Volgograd

Kirovsky Islamic Centre – Make it a Reality

Archive for March, 2010

Akhlak dan sifat para da’i

Adapun akhlak dan karakter yang seharusnya dimiliki oleh para du’at, maka Alloh Jalla wa ’Ala telah menjelaskannya di dalam banyak ayat di dalam beberapa tempat di dalam kitab-Nya yang mulia. Diantaranya adalah :

 

Pertama : Ikhlas. Wajib bagi setiap da’i untuk mengikhlaskan diri kepada Alloh Azza wa Jalla, bukan karena keinginan untuk riya’ (pamer supaya dilihat orang) dan sum’ah (pamer supaya didengar orang) dan bukan pula untuk mendapatkan pujian dan sanjungan manusia. Hanya saja ia berdakwah kepada Alloh untuk mengharap wajah Alloh Jalla wa ’Ala semata, sebagaimana firman Alloh Subhanahu :

 

”Katakanlah: Inilah jalanku, Aku menyeru hanya kepada Alloh.” Dan firman-Nya: ”Siapakah yang lebih baik perkataannya dari orang yang mengajak kepada Alloh.” Maka wajib bagi anda untuk mengikhlaskan diri kepada Alloh Azza wa Jalla, dan hal ini merupakan akhlak yang paling penting dan sifat yang paling agung yang seharusnya anda gunakan di dalam dakwah anda, yang anda hanya mengharap wajah Alloh dan negeri akhirat.

 

Kedua : Dakwah juga harus dengan ilmu, karena ilmu itu merupakan kewajiban. Jauhilah berdakwah dengan kebodohan dan berkata-kata dengan sesuatu yang tidak anda ketahui. Sesungguhnya kebodohan itu akan menghancurkan tidak bisa

membangun dan merusak tidak bisa membenahi.

 

Maka bertakwalah kepada Alloh wahai hamba Alloh, jauhilah berbicara tentang Alloh tanpa ilmu, dan janganlah anda berdakwah mengajak kepada sesuatu kecuali setelah anda mengetahui ilmu dan bashiroh (hujjah yang nyata) dari apa yang difirmankan Alloh dan disabdakan Rasul-Nya.

 

Dakwah haruslah dengan bashiroh, yaitu ilmu. Maka wajib bagi penuntut ilmu dan da’i untuk menggunakan bashiroh ketika berdakwah dan mencermati apa yang ia dakwahkan dengan dalil-dalilnya. Apabila telah jelas baginya kebenaran dan ia mengetahui kebenaran maka hendaklah ia berdakwah menyeru kepadanya, baik itu berupa perbuatan untuk mengamalkan atau meninggalkan, yaitu berdakwah kepada pengamalan apabila merupakan ketaatan kepada Alloh dan Rasul-Nya, dan berdakwah untuk meninggalkan apa yang dilarang Alloh dan Rasul-Nya di atas petunjuk dan bashiroh.

 

Ketiga : Anda haruslah berlemah lembut dan ramah di dalam dakwah anda dan bersabar sebagaimana sabarnya para rasul ’alaihimush Sholatu was Salam. Jauhilah sikap terburu-buru, bengis dan keras. Wajib bagi anda bersikap sabar, lemah lembut dan ramah di dalam dakwah anda. Telah berlalu bagi anda beberapa dalil yang menunjukkan hal ini, seperti firman Alloh Jalla wa ’Ala :

”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”

 

Dan Firman-Nya Subhanahu :

”Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.”

 

Dan firman-Nya Jalla wa ’Ala di dalam kisah Musa dan Harun :”Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut.”

Di dalam sebuah hadits shahih, Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam

bersabda :

”Ya Alloh, siapa saja yang mengatur sesuatu dari urusan ummatku dan ia bersikap lemah lembut kepada mereka maka bersikap lemah lembutlah padanya dan siapa saja yang mengatur sesuatu dari urusan ummatku dan ia bersikap kasar kepada mereka maka bersikap kasarlah pada dirinya.” Dikeluarkan oleh Muslim di dalam shahih-nya.

 

Maka wajib bagi anda wahai hamba Alloh, untuk bersikap lemah lembut di dalam dakwah anda dan jangan bersikap kasar kepada manusia. Janganlah anda menyebabkan mereka lari dari agama dan menyebabkan mereka lari dikarenakan sikap keras dan kejahilan anda, dan jangan pula dengan cara yang bengis yang malah menimbulkan madharat.

 

Anda wajib bersikap ramah dan bersabar serta berkata dengan lembut, halus dan baik sehingga mempengaruhi hati saudara anda dan mempengaruhi hati mad’u anda. Sehingga dia menjadi ramah dan bersikap lembut dengan dakwah anda serta terpengaruh dengannya, dan ia pun memuji anda dan berterima kasih kepada anda atas dakwah yang telah anda berikan padanya. Adapun sikap bengis, maka sikap ini hanya akan menyebabkan orang lari dari dakwah bukannya malah mendekatkan dan ia akan memecah belah bukannya mempersatukan.

 

Diantara akhlak dan karakter yang sepatutnya –bahkan wajib dimiliki oleh seorang da’i adalah : hendaklah ia mengamalkan ilmunya dan ia dapat menjadi teladan yang shalih di dalam dakwahnya, bukan menjadi orang yang mengajak kepada sesuatu namun ia meninggalkannya, atau melarang dari sesuatu namun ia melakukannya. Ini adalah keadaan orang-orang yang merugi, na’udzu billahi min dzalik.

 

Adapun orang-orang mukmin yang beruntung, maka mereka adalah para da’i yang menyeru kepada kebenaran dan mengamalkannya lagi antusias dan bersegera di dalam

mengamalkannya serta menjauhi segala apa yang dilarang.

 

Alloh Azza wa Jalla berfirman :“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS ash-Shaaf : 2-3)

Telah shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bahwasanya beliau bersabda :

 “Pada hari kiamat, didatangkan seorang pria kemudian ia dilemparkan ke dalam neraka hingga usus-ususnya keluar terburai dari perutnya, lalu ia berputar-putar di dalamnya sebagaimana seekor kedelai berputar mengitari penggilingan. Para penghuni neraka pun berkumpul dan berkata kepada orang itu : wahai Fulan, apa gerangan yang terjadi denganmu? Bukankah kamu dulu senantiasa beramar ma’ruf nahi munkar? Ia menjawab : betul, aku dulu memerintahkan kepada yang ma’ruf namun aku tidak melaksanakannya dan aku melarang dari yang munkar namun aku mengerjakannya.”

 

Ini adalah keadaan orang yang berdakwah kepada Alloh, beramar ma’ruf dan nahi munkar kemudian perbuatannya menyelisihi ucapannya dan ucapannya menyelisihi perbuatannya, na’udzu billahi min dzalik. Termasuk akhlak yang paling penting dan paling agung yang harus dimiliki seorang da’i adalah ia harus mengamalkan apa yang ia dakwahkan dan meninggalkan apa yang ia larang.

 

Hendaklah ia menjadi orang yang berakhlak mulia dan berperangai terpuji, yang sabar dan senantiasa menjaga kesabarannya, yang ikhlas di dalam dakwahnya dan bersungguh-sungguh di dalam menyampaikan kebaikan kepada manusia dan menjauhkan mereka dari kebatilan, disamping itu juga mendoakan hidayah bagi mereka.

 

Hal ini termasuk akhlak yang terpuji, yaitu mendo’akan mereka untuk mendapatkan hidayah dan mengatakan kepada mad’u :

Hadakallohu (semoga Alloh memberi anda pentunjuk), wafaqokallohu liqobuulil haq (semoga Alloh memberikan taufiq-Nya kepada anda di dalam menerima kebenaran), a’aanakallohu ‘ala qobuulil haq (semoga Alloh menolong anda untuk menerima kebenaran).

 

Anda mendakwahinya, menunjukinya dan bersabar atas aral rintangan, selain itu anda juga mendo’akannya dengan hidayah.

 

Nabi ‘alaihish Sholatu was Salam bersabda ketika ada yang mengatakan bahwa suku Daus telah berlaku durhaka :

“Ya Alloh tunjukilah Daus dan berikan petunjuk-Mu kepada mereka.”

 

Anda do’akan mereka hidayah dan taufiq untuk menerima kebenaran, bersabar dan tetaplah bersabar di dalam dakwah, janganlah anda putus harapan dan putus asa, dan jangan pernah anda mengatakan kecuali yang baik. Janganlah anda bersikap bengis dan mengucapkan perkataan yang buruk yang dapat menyebabkan mereka lari dari kebenaran. Akan tetapi terhadap orang yang zhalim dan berbuat aniaya, maka ini masalahnya lain lagi, sebagaimana firman Alloh Jalla wa ‘Ala :

 “Janganlah kalian berdebat dengan ahli kitab melainkan dengan cara yang lebih baik, kecuali kepada orang-orang yang zhalim di antara mereka.”

 

Adapun orang zhalim yang menghadapi dakwah dengan keburukan, penentangan dan gangguan, maka memiliki hokum lain. Apabila memungkinkan, mendidiknya dengan cara dipenjara atau selainnya, dan mendidiknya itu haruslah menurut tingkatan kezhalimannya. Akan tetapi, apabila ia berhenti dari memberikan gangguan maka wajib bagi anda bersabar atasnya, mengharap (kebaikan atasnya) dan mendebat dirinya dengan cara yang baik serta memaafkan sebagian gangguan yang berkenaan dengan pribadi anda sebagaimana para rasul dan para pengikut mereka bersabar dengan lebih baik.

 

Saya memohon kepada Alloh Azza wa Jalla agar memberikan taufiq-Nya kepada kita semua agar berdakwah dengan cara yang baik, dan agar Alloh meluruskan hati dan amal-amal kita serta menganugerahkan kepada kita pemahaman di dalam agama dan komitmen di atasnya. Semoga Alloh menjadikan kita termasuk orang yang mendapatkan petunjuk lagi menunjuki dan orang yang shalih lagi membenahi, sesungguhnya Ia adalah Maha Mulia lagi Maha Tinggi, yang Maha Berkuasa lagi Maha Mulia.

 

Semoga shalawat, salam dan keberkahan senantiasa tercurahkan kepada hamba dan Rasul-Nya, Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang baik hingga hari kiamat.

Dakwah Kepada Allah (‘Abdul Aziz bin ‘Abdillah bin Baz)

  • Comments Off
  • Filed under: 2. Artikel B. Melayu, 4. Tazkirah
  • Syura dalam organisasi Islam

    Oleh WAN JEMIZAN WAN DERAMAN

    BERBEZA pandangan di antara satu sama lain adalah lumrah manusia. Firman Allah SWT dalam Surah Hud, ayat 118: Dan kalaulah Tuhanmu (wahai Muhammad) menghendaki, tentulah Dia menjadikan umat manusia semuanya menurut agama yang satu.

    (Tetapi Dia tidak berbuat demikian) dan kerana itulah mereka terus-menerus berselisihan.

    Namun, jika perbezaan pandangan ini tidak diuruskan dan diselesaikan dengan baik, maka ia akan mewujudkan konflik yang akhirnya sukar untuk diselesaikan. Di sinilah bermulanya kepentingan untuk melaksanakan syura.

    Syura adalah proses perbincangan dan perundingan untuk mengeluarkan keputusan atau untuk menyelesaikan sesuatu masalah. Ia adalah merupakan sebuah medan untuk mewujudkan kesatuan pemikiran (wehdatul fikr) yang akan menjurus kepada kesatuan amal (wehdatul amal).

    Pandangan-pandangan yang pelbagai ini perlu digarap dan diharmonikan untuk mengeluarkan satu keputusan yang benar-benar matang demi kepentingan bersama.

    Perspektif

    Firman Allah SWT yang bermaksud: Wahai umat manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari lelaki dan perempuan, dan Kami telah menjadikan kamu berbagai bangsa dan bersuku puak, supaya kamu berkenal-kenalan (dan beramah mesra antara satu dengan yang lain). Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang lebih takwanya di antara kamu, (bukan yang lebih keturunan atau bangsanya). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Mendalam Pengetahuannya (akan keadaan dan amalan kamu). (al-Hujurat: 13)

    Ayat al-Quran tersebut menggambarkan kepada kita betapa manusia ini secara fitrahnya berbeza dari segi agama, bangsa, latarbelakang keluarga, pendidikan, skop kerja, tanggungjawab, kepentingan dan sebagainya.

    Kepelbagaian inilah yang akhirnya mewujudkan perbezaan cara pemikiran, tingkah-laku dan pembawaan. Wujudnya perbezaan pandangan kerana mereka melihat dari sudut ruang lingkup dan perspektif masing-masing.

    Oleh itu, mereka yang terlibat dengan syura perlu mempunyai sahsiah yang terbaik demi menerapkan roh syura dalam menyelesaikan kepelbagaian dan ketidaksatuan pandangan tersebut. Antara akhlak dan disiplin dalam mesyuarat adalah:

    lPositif kepada orang lain. Individu yang menyertai atau terlibat dalam mesyuarat perlu menganggap ahli-ahli mesyuarat yang lain sebagai sahabat, bukan musuh. Jika dia menganggap orang lain sebagai musuh, maka timbullah sikap negatif terhadap mereka. Setiap pandangan orang lain akan cuba disangkal walaupun ia sebenarnya tepat. Dalam sesi mesyuarat, dia akan sibuk mencari kelemahan dan kesalahan orang lain. Setiap kali dia bercakap, diungkit-ungkit kesalahan orang lain, bukannya mencari penyelesaian terhadap masalah yang berlaku. Lalu masa terbuang begitu sahaja.Mesyuarat berakhir tanpa sebarang keputusan. Hasil yang ada hanya iri hati, cemburu, api kebencian dan permusuhan.

    lFokus kepada matlamat mesyuarat dengan mengkaji dan membuat analisis tentang isu yang akan dibincangkan. Semasa bermesyuarat, dia perlu memberi penerangan atau taklimat kepada anggota-anggota mesyuarat yang lain untuk memastikan mereka faham terlebih dahulu matlamat dan objektif mesyuarat tersebut. Dia juga perlu mengawal skop perbincangan agar tidak lari dari matlamat asal. Individu yang mengendalikan mesyuarat sangat berperanan memastikan mesyuarat menjadi medan yang berkesan. Dia perlu membuat persediaan sebelum memulakan sesuatu mesyuarat. Antaranya, beri ruang kepada semua pihak mengutarakan pandangannya. Seterusnya, mengharmonikan jurang-jurang perbezaan yang ada agar dapat menjaga kepentingan semua pihak. Anggota jawatankuasa atau ahli mesyuarat juga perlu mempunyai akhlak dan disiplin agar perjalanan proses mengeluarkan keputusan itu lancar. Sekiranya ruang tidak dibuka seluas-luasnya untuk bersuara, pastinya ada orang yang keluar dari bilik mesyuarat dengan perasaan tidak puas hati.Mereka juga mesti berlapang dada menerima pandangan dan teguran pihak lain. Jangan merasa tercabar seolah-olah maruahnya dipijak-pijak apabila pandangan ditolak oleh ahli mesyuarat. Tidak perlu untuk merasa hina dan melenting ketika pihak lain mempunyai pandangan kedua. Firman Allah SWT yang bermaksud: Dan taatlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan; kalau tidak nescaya kamu akan menjadi lemah semangat dan hilang kekuatan kamu, dan bersabarlah (menghadapi segala kesukaran dengan cekal hati). Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (al-Anfaal: 46)Rasulullah SAW telah menunjukkan contoh yang terbaik dalam soal ini. Baginda mempamerkan sikap kepimpinan yang ideal dalam menegakkan prinsip syura ini. Walaupun Baginda adalah seorang rasul yang pastinya dibimbing oleh Allah SWT, tetapi masih memberi ruang kepada sahabat-sahabat untuk mengemukakan pandangan.Tidak ada halangan bagi mereka untuk terlibat sama dalam proses mengeluarkan keputusan kerana keputusan tersebut akan dilaksanakan untuk kepentingan bersama. Dalam peperangan Badar, Rasulullah SAW menerima pandangan Hubab r.a mengenai tempat pertempuran. Hubab r.a mencadangkan untuk tentera Islam menduduki tempat yang paling dekat dengan air kerana ia sangat penting bagi tentera dan haiwan tunggangan mereka. Dalam perang Khandak pula, Rasulullah SAW bersetuju dengan pandangan Salman al-Farisi yang berketurunan Parsi untuk menggali parit bagi berhadapan dengan tentera Ahzab. Strategi ini membantu pasukan tentera Islam berjaya dalam semua peperangan dengan pihak musuh. Demikianlah antara episod-episod betapa Rasulullah SAW menunjukkan contoh yang terbaik dalam memimpin sesebuah organisasi. Iaitu mengambil dan menerima pandangan sahabat-sahabat.

    lMerendah diri, jangan ego dan sombong. Sekiranya Rasulullah SAW boleh menerima pandangan sedangkan baginda adalah merupakan penghulu kepada rasul, nabi dan umat manusia, maka mengapa kita terlalu ego dan sombong untuk sekurang-kurangnya mendengar pandangan orang lain? Di sini menunjukkan kepada kita bahawa jawatan dan kedudukan yang dipegang, setinggi mana pun ia, tidak boleh menjadikan individu tersebut kebal dengan sebarang teguran dan pandangan. Lebih-lebih lagi kita adalah manusia yang tidak maksum. Memerlukan bantuan daripada sahabat-sahabat yang lain untuk menampung segala kekurangan.Jikalau tidak bersetuju dengan pandangan tersebut, maka adalah lebih baik menggunakan bangkangan yang paling lembut dan berhikmah. Kenapa perlu bertelingkah, sedangkan kita mempunyai pilihan untuk bermesyuarat dalam suasana yang cukup harmoni, aman dan penuh ukhuwah. Jangan memperkecil dan meremehkan pandangan orang lain disebabkan kedudukannya lebih rendah daripada kita. Ingat, Allah SWT yang menggerakkan fikiran seseorang itu untuk mengeluarkan buah fikiran, tidak kira tinggi atau rendah pangkatnya. Hayati firman Allah dalam surat al-Hujuraat ayat 11. Ahli mesyuarat juga perlu mengelak daripada membangkitkan isu-isu yang menyentuh perkara sensitif dan terlalu peribadi yang akhirnya menimbulkan permusuhan di kalangan anggota. Bahkan, mencetuskan dendam kesumat yang tidak akan padam.

    lJauhi prasangka buruk kerana prasangka buruk ini tidak akan berlaku kecuali apabila kita mempunyai pemikiran yang negatif. Cuba mulakan segalanya dengan positif terlebih dahulu. Mendengar idea yang dikemukakan oleh orang lain memerlukan penilaian secara positif terlebih dahulu. Sekiranya kita mempunyai tanggapan yang negatif, maka kita akan cenderung untuk menolaknya walaupun sebenarnya ia mempunyai kebaikan untuk organisasi. Ingatlah firman Allah SWT dalam surah al-Hujuraat, ayat 12.Sebenarnya, konsep syura bukan hanya berlaku semasa waktu mesyuarat sahaja, tetapi ia juga perlu diaplikasikan dalam rutin kehidupan harian di tempat kerja atau di rumah.Bayangkan seorang suami mengaplikasikan konsep syura dalam rumahtangganya. Tentulah akan mewujudkan suasana yang cukup bahagia dan tenteram. Begitu juga sebuah institusi yang mempunyai masalah dan konflik dalaman yang begitu parah. Ia tidak akan dapat diselesaikan melainkan dengan aplikasi semangat syura. Kita melaksanakan syura bukan kerana memenuhi prosedur syarikat atau organisasi semata-mata, tetapi lebih besar daripada itu adalah disebabkan perintah dan arahan Allah SWT. Firman Allah SWT yang bermaksud:…Dan urusan mereka dijalankan secara bermesyuarat sesama mereka. (asy-Syura: 38)

    Sumber: http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2010&dt=0303&pub=Utusan_Malaysia&sec=Bicara_Agama&pg=ba_01.htm

    Sumbangan boleh diwakilkan kepada:

    Badan Penggerak Khas Tabung Kirovsky

    MOHAMAD AIZZAT B. MAT GHANI Account No (MAYBANK): 162218469566
    Email : musliminvolgograd@gmail.com Alamat di Malaysia : W2/494 JALAN MERANTI 17000 PASIR MAS KELANTAN No telefon : 0199079217 (MALAYSIA), +79377230158 (RUSSIA)


    *Pelajar Volgograd boleh menyampaikan sumbangan anda kepada ketua kumpulan, naqib dan naqibah masing-masing

    2nd Kirovsky Week – Kirovsky A Reality

    Recent Comments

    • , matpih, October 6, 2011 : alhamdulillah
    • , admin, June 2, 2011 : tafadahhal..insyaAllah demi kebaikan bersama
    • , Nur Muhd Ammar, June 2, 2011 : minta izin share post ini, insya’Allah demi kebaikan...
    • , Zubair Ahmed Allapur, April 27, 2011 : Alhamdulillah it was a fine experince going through, by...